Ekosistem Kopi Berkelanjutan Tumbuh Di Lereng Gunung Salak

Proses produksi Absolute Coffee di Desa Cipeuteuy, Kecamatan Kabandungan, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Foto: Absolute Coffee


Sukabumi — Inisiatif pengembangan kopi berbasis keberlanjutan tumbuh di lereng Gunung Salak, Sukabumi, melalui penguatan petani dan praktik agroforestri di kawasan penyangga Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS).

Inisiatif tersebut dikembangkan oleh Absolute Coffee bersama komunitas petani di Desa Cipeuteuy, Kecamatan Kabandungan, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Pendiri Absolute Coffee Muhamad Kosar mengatakan pengembangan usaha kopi tersebut tidak semata berorientasi pada bisnis, tetapi sebagai upaya membangun ekosistem yang menempatkan petani sebagai bagian utama dalam rantai nilai kopi.

“Kopi bukan sekadar komoditas, tetapi bagian dari sistem ekologi yang lebih luas,” ujar Kosar.

Menurut dia, praktik budidaya kopi di kawasan tersebut dikembangkan melalui pendekatan agroforestri yang menjaga keseimbangan antara produksi kopi, kelestarian lingkungan, serta kesejahteraan petani.

Dalam praktiknya, Absolute Coffee mendampingi tujuh Kelompok Tani Hutan (KTH) dan 13 Kelompok Tani (Poktan) untuk meningkatkan kualitas budidaya kopi, mulai dari pemilihan bibit, pengelolaan kebun, hingga teknik panen selektif yang hanya memetik buah kopi merah matang.

Selain itu, petani juga didorong memperbaiki proses pascapanen melalui teknik fermentasi dan pengeringan yang lebih baik agar kualitas biji kopi meningkat.

Kosar mengatakan pengembangan ekosistem kopi tersebut juga didukung oleh Star Energy Geothermal yang beroperasi di kawasan Gunung Salak.

“Star Energy memberikan dukungan pendanaan untuk penguatan dan pengembangan infrastruktur usaha, peningkatan kapasitas dalam kegiatan budidaya serta penanganan pascapanen kopi, serta mendukung upaya pengembangan dan penguatan branding Absolute Coffee guna meningkatkan daya saing produk dan perluasan akses pasar,” kata Kosar.

Menurut dia, dukungan tersebut memberikan dampak pada peningkatan kapasitas teknis dalam pengelolaan usaha kopi sehingga lebih efektif dan profesional.

“Hal itu mendorong peningkatan produktivitas sekaligus pendapatan usaha,” ujarnya.

Kosar menambahkan saat ini usaha kopi yang dikelola Absolute Coffee memiliki rata-rata omzet sekitar Rp150 juta per tahun.

Selain penguatan produksi, Absolute Coffee juga membangun kedai kopi di desa sebagai ruang promosi sekaligus edukasi mengenai kopi lokal.

Dari kedai tersebut lahir Rumah Belajar (RUBE) Kopi Cipeuteuy yang menjadi ruang pembelajaran bagi petani, mahasiswa, peneliti, hingga wisatawan untuk memahami proses kopi dari kebun hingga secangkir minuman.




Lebih baru Lebih lama